Rabu, 15 Agustus 2018

Jika muslim jatuh cinta

Jika Muslim Jatuh cinta




Siapa yang salah?
Ketika cinta singgah sebelum membaca akad lalu sang lelaki mengumbar janji dan harapan, dimana perempuan fitrahnya memang selalu perasa
Siapa yang salah?
Ketika seorang laki laki dan perempuan mengetahui bagaimana hukum pacaran namun mereka tetap menjalaninya dengan mengatasnamakan ta'aruf
Siapa yang salah?
Ketika akhirnya iman mulai goyah hanya karena ribuan kata kata lelaki yang mampu membuat seorang perempuan merasa terbang di atas langit padahal dia tidak mempunyai sayap

Mencintai seseorang terkadang membuat kita rela melakukan apa saja, apakah tidak takut jika nanti allah cemburu ?? Bukankah yang menciptakan orang yang kamu cintai adalah Allah? Lalu mengapa tidak meminta izin terlebih dahulu kepada-Nya ?mengapa tak melakukan apa saja yang di perintahkan allah agar dia menyayangimu dan allah memberikan seseorang yang kamu cintai dengan cara yang indah, Mengapa kamu malah berdandan menarik dihadapan dia yang kamu suka ?sedang kan kamu selalu berpenampilan biasa saja ketika di hadapan sang pencipta-Nya ? Apakah kamu lupa kalau jodoh itu ditangan allah??
Jika seorang muslimah jatuh cinta, ia tidak akan berkata kepada seorang ihkwan "akhi ana uhibbuka fillah" tapi seorang muslimah akan selalu menjaga cinta yang allah titipkan padanya dan menjaganya, Sebab dia yakin mungkin saat ini Allah swt sedang menguji keimanan nya
Jika seorang muslimah jatuh cinta, ia akan berusaha menjauhi seseorang yang ia cintai,bukan untuk memutuskan tali silaturahmi, tapi agar dia bisa menjaga rasa cintanya agar tidak ternodai oleh kemaksiatan dan selalu berdoa kepada allah agar allah menjaga cintanya dengan seseorang yang allah pilihkan untuknya .
Tak bisa dipungkiri lagi bahwa setiap muslim mempunyai cinta namun Seorang muslimah harus bisa menjaga perasaan cintanya hingga menjadi halal baginya.sebagai mana allah berfirman yang artinya :
" wanita wanita keji adalah untuk laki laki yang keji dan laki laki keji untuk wanita wanita yang keji (pula) dan wanita wanita yang baik adalah untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik untuk wanita wanita yang baik pula, mereka (yang dituduh ) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu ), bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (QS. An-Nur:26)
 Allah juga berfirman dalam QS.An-Nur:33 yang artinya :
"Laki laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki laki yang berzina atau laki laki musyrik; dan yang demikian itu diharamkan atas orang orang mukmin."
Nah seperti itulah islam mengajarkan kita ketika rasa cinta itu datang. Itulah rasa dimana terkadang rasa itu mampu menjadi boomerang tersendiri untuk kita ketika tak mampu mengendalikan perasaan. Saling menyalahkan saja tidak baik, apalagi menyesal.Menyesal hanya akan mendekatkan kita pada rasa ketidak bersyukuran.
Menikmati apa yang terjadi pula bukan berarti membiarkan hidup kita mengalir seperti air yang mengalir, itu sama saja seperti hidup ini bergantung pada jalan nya arus yang berjalan, jadilah perahu yang berani berlayar melawan arus dan mengendalikannya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan .
Semoga kita semua bisa menjaga cinta kita untuk seseorang yang benar benar halal bagi kita, semoga allah memberikan pasangan yang terbaik untuk para muslimah dan para ihkwan yang senantiasa menjaga perasaan dan rasa cintanya terhadap lawan jenis, amiin .

Selasa, 24 Juli 2018

tugas TIK

Legenda – Situ Bagendit

Legenda dari Jawa Barat.
   Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota Garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.
   Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.
   Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.
   “Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada temannya. “Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu? “Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!” sahut temannya. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”

   Sementara itu Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.
“Barja!” kata nyai Endit. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit.
“Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”
“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit.

   Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya. “Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.” Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.

   Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.
“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.
Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.
“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.
“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut
“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek
“Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?”
“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.
“Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih.
“Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”
“Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”
“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.
Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.

   Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.
“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.
“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.
“Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”
Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.
Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.
“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”
“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.
“Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.
“Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.
Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.
“Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”
“Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.
“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”
“Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.
 Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.
“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!” Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.
"Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”
Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.
“Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”

   Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.

   Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.